Rabu, 14 April 2010

KONSEP DASAR GIS

I. Pendahuluan

Bagian ini akan mereview susunan komponen dan rencana model-model data GIS. Pusat perhatian ditujukan pada model-model spatial dan atribut data, dan bagaimana diberi sandi dengan perangkat lunak GIS. Bagian ini menggambarkan komponen-komponen teknik GIS yang akan banyak menarik perhatian pada staf teknik dan operator GIS.


II. Apakah GIS itu ?

Sebuah GIS adalah sebuah CBIS untuk memetakan dan menganalisa phenomena geografi yang ada, dan kejadian yang muncul dimuka bumi. Teknologi GIS mengintegrasikan pengoprasian-pengoprasian database biasa seperti pengurutan dan analisa statistic dengan kelebihan pengelihatan unik dan analisa geografi dengan peta-peta. Kehandalan ini membedakan GIS dari CBIS lainnya dan berkemampuan nilai pada satu rentang yang luas bagi perusahaan pemerintah dan swasta untuk menjelaskan kejadian-kejadian, meramalakan hasil akhir, merancang strategi-strategi. Pembuatan peta dan analisa gografi bukan hal baru, tetapi GIS melaksanakan tugas tersebut lebih cepat dan lebih canggih dari pada melakukannya secara tradisi dengan menggunakan tangan.


Hari ini, GIS merupaka satu industri milyaran dollar mempekerjakan ratusan ribu orang diseluruh dunia. GIS diajarkan disekolah, universitas diseluruh dunia. Professional dan bidang kegiatan tertentu dalam tiap disiplin menjadi lebih menigkatan kesadarannya akan keuntungan pemakaian teknologi GIS tertuju pada keunikan masalah spatial mereka.


Secara umum kita membayangkan GIS sebagai satu yang tunggal, dikenal dengan baik, sistem computer yang terintegrasi. Tetapi ini bukan kasus yang selalu demikian. Sebuah GIS dapat dibuat dari berbagai macam alat-alat perangkat lunak dan perangkat keras. Faktor terpenting adalah pada tingkatan pengintegrasian alat-alat tersebut untuk menyediakan satu operasi yang mulus, lingkungan pemfungsian pemrosesan data geografi secar menyeluruh.


Secara menyeluruh GIS hendaknya dilihat sebagai satu teknologi tidak menyederhanakan sebagai sistem computer.


Secara umum, sebuah GIS mengdakan fasilitas-fasilitas untuk menangkap data, mengelola data, dan mempresentasikan hasil-hasilnya selain dalam bentuk garfik juga laporan, dengan penekanan tertentu dalam pemeliharaan dan pemanfaatan sifat-sifat yang melekat pada data keruangan.

Kemampuan menggabungkan data keruangan, mengelolanya, menganlisanya, dan menjawab pertanyaan keruangan adalah sifat tersendiri dari sistem informasi geografis.


Satu Sistem informasi geografis secara umum merujuk pada sebuah GIS adalah satu kerja sama rangkaian peralatan perangkat lunak dan perangkat keras digunakan untuk manipulasi dan pengelolaan data digital keruangan berkaitan dengan atribut.


Subsistem GIS

Sebuah GIS memiliki empat subsistem pemfungsian pokok. Yaitu :

  • Subsistem input data
  • Subsistem penyimpanan dan pengambilan kembali data
  • Subsistem manipuasi dan analisa data
  • Subsistem output dan menampilkan data


Input data

Subsistem input data memungkinkan user untuk menangkap , mengumpulkan dan mengalihkan data keruangan dan thematic kedalam bentuk digital. Input-input data biasanya bergerak dari kombinasi peta-peta hard copy, foto udara, citra pengindraan jarak jauh, laporan-laporan, dokumen survey dan sebagainya.


Subsistem penyimpanan dan pengambilan kembali data. Mengorganisir data tersebut, keruangan dan atribut, dalam satu bentuk yang memungkinkannya diambil kembali dengan cepat untuk analisa, dan memungkinkan memperbaharui cepat dan akurat untuk dibuat kedalam database. Komponen ini biasanya terlibat penggunaan satu Database Management System (DBMS) untuk pengaturan (maintaining) atribut data. Data keruangan biasanya disandikan dan diatur dalam satu format yang sesuai.


Subsistem manipulasi dan analisa data memungkinkan user menetapkan dan melaksanakan prosedur keruangan dan atribut untuk membentuk informasi yang diperoleh. Subsistem ini secara umum difikirkan sebagai jantung dari sebuah GIS, dan biasanya membedakannya dari database sistem informasi dan sistem CAD lainnya.


Output data

Subsistem output data memungkinkan user membentuk tampilan grafis, peta bersifat biasa, dan laporan berupa table mewakili hasil informasi yang diperoleh.

Fungsi yang kritis dari sebuah GIS adalah perancangan, analisa dari data keruangan.


Penting untuk difaham bahwa GIS bukan temuan baru. Sebenarnya pemrosesan informasi geografi memilki sejarah yang panjang didalam berbagai disiplin. Dalam praktek, sumber daya alam tertentu dan lingkungan ilmuan telah secara aktif mengolah data geografi dan mempromosikan teknik mereka sejak tahun 1960 an.


Umumnya hari ini, GIS, dibedakan dari geo-processing diwaktu yang lalu dengan pemakaian otomatisasi computer untuk menggabungkan peralatan pemroses data geografi dalam lingkungan bersahabat dan penuh pengertian.


Kahadiran kecanggihan teknik computer memberi perkembangan yang baik metodologi aplikasi berbagai disiplin cara melakukan geo-processing dan integrasi kemampuan penyediaan data yang secara logistic sebelumnya tidak masuk akal.


III. Komponen sebuah GIS

Pengoprasian sebuah GIS mempunyai sederetan komponen yang digabungkan agar sistem tersebut dapat bekerja. Komponen-komponen tersebut adalah sangat menentukan dalam mensukseskan sebuah GIS. Kerja sebuah GIS mengintegrasikan lima komponen kunci : perangkat keras ( hardware), perangkat lunak (software), data, orang-orang (people), dan cara (methode).



Prangkat keras



Perangkat keras adalah sistem computer dimana sebuah GIS beroprasi. Hari ini, perangkat lunak berjalan pada satu rentang jenis perangkat keras yang luas, dari server computer tersentralisasi sampai penggunaan desktop computer stand alone atau jaringan terkonfigurasi.


Perangkat lunak

Perangkat lunak GIS menyediakan fungsi-fungsi dan peralatan (tools) yang diperlukan untuk menyimpan, menganalisa dan menayangkan informasi geografi. Berbagai perusahaan seperti ESRI menawarkan perangkat lunak dengan peralatan menyeluruh. Juga terdapat produk open source seperti GRASS atau banyak produk tertentu lainnya.


Data

Barangkali komponen GIS terpenting adalah data. Data geografi dan hubungannya dengan tabel data dapat dikumpulkan in-house, persyaratan dan specifikasi menurut kebiasaan, atau kadang-kadang disewa dari perusahaan penyedia kommersial. Sebuah GIS dapat mengintegrasikan data keruangan dengan sumbar data existing, string disimpan dalam sebuah DBMS barsama. Integrasi data keruangan (biasanya pemilik perusahaan ke perangkat lunak GIS), dan menyimpan tabel data kedalam sebuah DBMS adalah satu kunci pemfungsian disanggupi oleh GIS.




Orang-orang (people)

Teknologi GIS bernilai terbatas tanpa adanya orang-orang yang mengelola sistem dan mengembangkan rencana untuk pemakaiannya kedalam persoalan dunia nyata. Rentang pengguna GIS dari orang-orang teknik tertentu yang merancang dan mengurus sistem sampai pada mereka yang menggunakannya untuk membantu mereka menyelesaikan pekejaan sehari-hari. Mengenali specialist GIS versus end user sering menentukan terhadap kesesuaian penerapan teknologi GIS.


Methods

Keberhasilan pengoprasian GIS sesuai penerapan rencana yang telah dirancang dan aturan-aturan bisnis, yang memodelkan praktek pengoprasian unik bagi tiap organisasi.


Untuk organisasi yang berhubungan teknologi canggih, tools baru hanya bisa digunakan secara efektif jika mereka diintegrasikan secara tepat kedalam seluruh strategi dan operasi bisnis. Untuk melakukan ini secara tepat memerlukan bukan hanya pelatihan ulang dan/atau menyewa pegawai untuk menggunakan teknologi baru tersebut didalam konteks organisasi yang tepat. Kegagalan menerapkan GIS anda karena tidak memperhatikan satu kesepakatan kelayakan organisasi akan berakibat pada satu ketidak berhasilan sistem. Banyak masalah berkenaan dengan kesepakatan organisasi digambarkan pada masalah penerapan dan strategi (Implementasi Issue dan Strategies).


Gampangnya tidak cocok sebuah organisasi membeli sebuah komputer dengan beberapa prangkat lunak GIS, menyewa perorangan yang bersemangat dan berharap sukses dalam sekejap.


IV. Model-model data GIS

Sebuah GIS menyimpan informasi tentang dunia sebagai satu kumpulan layer-layer thematic yang dapat dilink dengan ilmu kebumian. Ini sederhana tetapi secara ekstrim berpengaruh dan konsep yang cakap memberi bukti tidak ternilai dalam menyelesaikan persoalan dunia nyata dari jejak pengiriman kendaraan, merekam rincian aplikasi perencanaan, pemodelan sirkulasi global atmosfir. Pendekatan layer thematic memungkinkan kita menyusun secara sistimatis kerumitan dunia nyata pada satu tampuilan ulang untuk membantu memudahkan pemahaman kita dari keterkaitan yang mendasar.



Jenis data GIS

Jenis data dasar dalam GIS mencerminkan data traditional yang ditemukan dalam peta. Karena itu, teknologi GIS memanfaatkan dua jenis data. Yaitu :

  • Data spatial

    Menggambarkan lokasi mutlak dan relatif dari featur geografi

  • Attribute data

    Menggambarkan sifat-sifat dari keruangan feature.

Koordinat lokasi dari keberadaan sebuah hutan akan merupakan data spatial, sementara sifat-sifat dimana hutan berada seperti : kelompok pemilik, kelompok tanaman yang mendominasi, cara mengakhiri kepemilikan merupakan attribute data. Jenis data lainnya khususnya data citra data multimedia menjadi lebih lazim dengan perubahan teknologi. Tergantung pada kekhususan isi dari data tersebut, data citra bisa dianggap spatial, yaitu potret, animasi, movies dan lain lain.




Model data spatial

Data spatial yang bersifat traditional telah disimpan dan ditunjukkan dalam bentuk peta. Tiga jenis model data spatial telah dikembangkan untuk menyimpan data geografi secara digital. Yaitu :

  • Vektor
  • Raster dan
  • Image (citra)


Diagram berikut mencerminkan dua teknik utama pemberian sandi data spatial. Yaitu vektor dan raster. Data citra memanfaatkan teknik-teknik yang sangat sama dengan data raster, meskipun secara typical kekurangan persyaratan format internal untuk analis dan pemodelan data. Citra mencerminkan picture atau foto dari taman.



Format data vektor

Semua model data spatial pendekatannya untuk menyimpan lokasi spatial dari feature geografi dalam suatu database. Penyimpanan vektor mengandung arti pemakaian vektor-vektor (garis dengan arah) untuk penyuajian kembali satu feature geografi. Data vektor dicirikan oleh pemakaian urutan titik-titik atau vertices untuk menetapkan satu potongan garis lurus. Tiap vertex terdiri atas sebuah koordinat x dan sebuah koordinat y.


Garis-garis vektor sering dirujuk sebagai sebuah arc dan terdiri dari sebuah string pengakhiran verties dengan sebuah titik. Sebuah titik ditetapkan sebagai sebuah vertex yang merupakan awal dan akhir sebuah segmen arc. Feature titik ditentukan oleh sepasang koordinat, sebuah vertex. Feature bentuk poligon didifinisikan sebagai satu set pasangan koordinat tertutup. Dalam penyajian ulang , penyimpanan dari verties-verties untuk tiap feature adalah penting, begitu juga keterhubungan antara feature-feature, yakni pembagian dari verties umum dimana feature bersambung.


Beberapa perbedaan keberadaan model-model data vektor, meskipun demikian hanya dua secara umum digunakan didalam penyimpanan data GIS.


Metoda paling umum untuk mempertahankan keterkaitan spatial diantara feature-feature adalah kejelasan rekord kedaan berdekatan informasi dalam hal ini dikenal sebagai model data. Topologi adalah satu konsep matematika yang menjadi dasardalam prinsip kedekatandan keterhubungan feature.


Struktur data topologi sering dirujuk sebagai sebuah intelligent data structure karena keterkaitan spatial antara feature geografi mudah didatangkan ketika mereka digunakan. Terutama untuk alasan ini dominasi struktur model topologi data vektor berjalan yang digunakan dalam teknologi GIS. Banyak fungsi analisa data yang rumit tidak dapat dilakukan secara effektif tanpa satu struktur data topologi vektor. Topologi akan direview lebih rinci nanti.


Struktur vektor data skunder yang umum diantara prangkat lunak GIS adalah CAD ( computer aided drafting data structure). Struktur ini terdiri atas daftar elemen-elemen, bukan feature, ditetapkan dengan string-string dari verties untuk menetapkan featur-featue grafis, yaitu point, garis, atau luas. Ada banyak redudancy dengan model data ini karena hata segmen antara dua polygon dapat disimpan dua kali, sekali untuk tiap feature. Struktur CAD ini muncul dari pengembangan sistem grafik komputer tanpa anggapan tertentu dari pemrosesan grafik feature. Sesuai dengan hal tersebut, sejak feature, yakni polygon, adalah lengkap dan bebas, pertanyaan tentang kedekatan dari feature dapat menjadi sulit untuk dijawab. Model vektor CAD kurangt penetapan dari keterkaitan spatial antara feature yang ditetapkan dengan model topologi data,



Format data raster

Model sdata raster menggabungkan penggunaan satu struktur data grid-cell dimana area geografi dibagi kedalam cells yang dikenal dengan row dan column. Struktur data ini umumnya disebut raster. Sambil istilah raster menyatakan secar tidak langsung grid dengan jarak teratur lainnya membuat petak-petak struktur data ada dalam grid berbasis sistem GIS.


Luas cell pada satu struktur data kotak dipilih pada basis ketelitian data dan resolusi yang dibutuhkan oleh user. Tidak ada penyandian koordinat grafik yang jelas karena itu tersembunyi dalam layout cell. Struktur data sebuah raster sebenarmya sebuah matrik dimana tiap koordinat dapat dihitung dengan cepat jika titik pusat diketahui, dan ukuran grid cell diketahui. Karena grid cell dapat ditangani sebagai array dua dimensi dalam penyandian komputer banyak operasi analitik mudah diprogramkan. Ini membuat struktur data membentuk petak-petak pilihan yang popular untuk banyak prangkat lunak GIS. Topology bukan satu konsep yang relevant dengan struktur membentuk petak-petak karena kedekatan dan keterhubungan tersembunyi dalam lokasi cell tertentu didalam matrik data.


Beberapa struktur data membentuk petak-petak ada, walupun demikian hanya dua umumnya digunakan dalam GIS. Struktur cell yang paling umum ialah matrik berjarak secara reguler atau struktur raster. Struktur data ini termasuk satu bagian data spatial kedalam cel berjarak reguler. Tiap cell mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Bujur sangkar adalah paling umum digunakan.


Karena data geografi jarang dibedakan dengan bentuk spasi reguler, cell harus digolongkan sebagai atribut paling umum untuk cell tersebut. Persoalan dalam menentukan resolusi yang sesuai untuk layer data tertentu dapat menjadi satu perhatian. Jika seseorang memilih satu ukuran sel begitu kasar maka data mungkin mengambil kesimpulan secara umum melapis. Jika seseorang memilih satu ukuran sel begitu baik maka begitu banyak sel mungkin dirancang menghasilkan dalam satu volume data yang besar, waktu pemrosesesan lebih lambat, dan satu set data lebih tidak praktis. Juga, seseorang dapat menyatakan secara tidak langsung satu ketelitian lebih besar dari pada proses menangkap data awal dan ini mungkin menghasilkan hasil keliru selama analisa.


Juga, karena kebanykan data ditangkap dalam satu format vektor, e.g. digitasi, data harus dirubah kedalam struktur data raster. Ini dinamakan vector-raster conversion. Kebanyakan SW GIS memungkinkan user menetapkan ukuran grid (sel) raster untuk vector-raster conversion. Itu adalah sangat mendesak bahwa skala asal, e.g. ketelitian, dari data diketahui lebih penting untuk conversion. Ketelitian dari data tersebut sering disebut sebagai resolusi, akan menentukan ukuran sel tersebut dari output peta raster selama conversion.


Kebanyakan raster berbasis SW GIS mensyaratkan sel raster tersebut mengandung hanya satu nilai discerete. Sesuai dengan itu, suatu layer data, e.g. persediaan ketinggian hutan, bisa dipecah kedalam sederetan peta-peta raster, masing-masing merepresentasikan satu jenis atribut e.g. peta kelompok tanaman, satu peta ketinggian, satu peta kepadatan, dsb. Hal tersebut sering dirujuk sebagai oene attribut maps. Hal ini tidak membandingkan pada kebanyakan model data vektor convensional yang menyimpan data sebagai multiple attribut map, e.g. poligon persediaan hutan link ke satu tabel database mengandung semua atribut sebagai kolom. Pebedaan mendasar penyimpanan data raster menyediakan pondasi untuk teknik analisa kuantitative. Hal ini sering dirujuk sebagai raster atau map algebra. Pemakaian struktur data raster memperhitungkan proses model matematik seraya vektor berbasis sistem sering dihambat oleh kehandalan sdan bahasa satu relasional DBMS.


MENGORGANISIR DAN MENYIMPAN DATA

Komponen penting kedua untuk sebuah GIS adalah subsistem storage dan retrieval. Subsistem inio mengorganisir data, baik spatial dan atribut, dalam satu bentuk yang memungkinkan di retrieve dengan cepat untuk updating, querying, and analyzing. Kebanyakan SW GIS memanfaatkan pemilik perusahaan SW untuk pengeditan dan retrieval sistem spatial mereka, dan satu DBMS untuk penyimpanan atribut mereka. Secara typical, satu model data internal digunakan untuk menyimpan atribut data pokok berkaitan dengan penentuan topologi spatial data tersebut. Sangat sering tabel-tabel data internal tersebut berisi kolom-kolom utama seperti area, perimeter, length, dan id number feture internal. Sering atribut data thematik dimaintain dalam sebuah DBMS external yang dilink kedata spatial melalui database internal tersebut.


Mengorganisir data untuk analisis

Kebanyakan SW GIS menyusun data spatial dalam satu pendekatan tematik yang membagi data kedalam layer vertikal. Pendifinisian layer sepenuhnya tergantung pada persyaratan organisasi. Typical layer yang dipakai agency atau perusahaan dalam pengelolaan sumber daya alam terdiri atas hutan penutup, jenis tanah, ketinggian, jaringan jalan, ecological area, hydrologi, dsb.


Pemasukan layer data spatial umumnya sekali dalam satu waktu, seperti hutan penutup. Sesuai denga hal itu, model atribut data yang dipakai subsistem penyimpanan data harus disusun dalam satu format yang akan memudahkan tugas manipulasi dan analisis yang akan diperlukan. Sangat sering, spatial dan stribut data bisa dimasukkan pada waktu yang berbeda dan dilink bersama nanti. Walaupun demikian, ini semua tergantung pada sumber data tersebut.


Identifkasi yang jelasi persyaratan untuk satu proyek GIS diperlukan sebelum satu prosedur input data, dan/atau penentuan layre, seharusnya muncul


Adalah mutlak bahwa users GIS memahami keseluruhan kebuthan mereka sebelum menyetujui satu proyek GIS.


Pengalaman telah menunjukkan bahwa pemahaman yang kurang akan kebuthan dan tugas pemrosesan yang diperlukan untuk satu proye tertentu, sangat meningkatkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaiakan proyek tersebut, dan mempengaruhi secara terbatas kualitas dan kepercayaan pada produk yang dibawa oleh GIS tersebut.


Layer data spatial – Vertical data organization


Pada kebanyakan SW GIS data diorganisir dalam theme-theme sebagai leyer-leyer. Pendekatan ini memungkinkan data diinput sebagai theme-theme terpisah dan dioverlay berdasarkan pada ketentuan analisis. Ini dapat sebagai konsep sifat layer vertikal dari permukaan bumi. Konsep overly demikian alamiah untuk cartographer (pembuat gambar) dan sumber daya alam tertentu yang telah dibangun kedalam rencana dari kebanyakan sistem vector CAD. Pendekatan overlay / layer tersebut yang dipakai dalam sistem CAD dipakai untuk memisahkan jenis-jenis terbanyak dari feature spatial. Konsep ini juga dipakai pada pada urutan data secara logis pada kebanyakan SW GIS. Pemberian istilah mungkin berbeda antara SW GIS, tetapi pendekatannya sama. Berbagai istilah digunakan untuk menetapkan layer-layer data dalam SW GIS kommersial. Itu mengandung theme-theme, coverage, layer-layer, ketingian-ketinggian, obyek-obyek, dan jenis-jenis feature. Layer dan theme data adalah yang paling umum dan sangat sedikit perusahaan pembuat SW untuk sebarang SW GIS tertentu dan sesuai dengan itu, sebagaimana digunakan pada seluruh buku ini.


Pada sebarang proyek GIS berbagai layer-layer data diperlukan. Semua itu harus dikenali sebelum proyek tersebut dimulai dan sebuah prioritas diberikan untuk menginput atau mendigitasi layer-layer data spatial. Ini mutlak, karena sering satu layer data mengandung feature-feature yang berimpitan satu sama lain, seperti danau-danau dapat dipakai untuk mendifinisikan polygon diantara inventaris layer data hutan. Layer data secara umum ditetapakan berdasar pada kebutuhan user dan keadaan dapat dipercaya dari data. Ada keadaan user mampu menetukan secara lengkap.

Penetapan layer data sepenuhnya tergantung pada bidang kepentingan dan prioritas yang diperlukan GIS tersebut. Penetapan layer bisa Sangay berbeda tergantung pada kebutuhan yang direncanakan dari GIS tersebut.

Ketika memilih persyaran fisik dari SW GIS adalah penting memahami bahwa dua jenis data dibutuhkan untuk tiap layer, atribut dan spatial data. Secara umum, layer-layer data diinput kedalam GIS satu layer pada satu waktu. Begitu juga , sering satu layer data dimuat secara lengkap yaitu perubahan (conversion) grafik, editing, topological buiding, attribute conversion, linking, dan verification, sebelum layer data selanjutnya dimulai. Karena ada beberapa langkah terkait dalam menyelesaikan pemuatan (loading) satu layer data hal ini dapat menjadi sangat membingungkan juka banyak layer dimuat dalam sekaligus.

Identifikasi yang sesuai dari layer-layer prioritas untuk mulai input data adalah menetukan (kritis). Identifikasi layer-layer data sering dicapai melalui analisa kebutuhan user. Analisa kebutuhan user melakukan beberapa fungsi termasuk :

  • Identifying the users
  • Educating users with respect to GIS need
  • Identifying information products
  • Identifying data requirements for information products
  • Priorizing data requirement and products, and
  • Determining GIS functional requirements

Sering satu user need assessment akan berisi satu review dari operasi-operasi yang ada, yaitu kadang-kadang disebut a situational assessment, dan a cost benefit analisis. Proses cost benefit dikenal dengan baik dalam penrosesan data conventional dan membantu sebagai mekanisme untuk membenarkan perolehan HW dan SW. Ia menetapkan dan membandingkan biaya terhadap potensial benefit. Kebanyakan institusi akan memerlukan langkah ini sebelum sebuah perolehan sebuah GIS dapat diterima.

Kebanyakan proyek GIS mengintegrasikan layer-layer data untuk mengcreate theme yang dijalankan atau layer yang menyajikan kembali hasil dari beberapa perhitungan atau model geografi, seperti keadaan dapat dipasarkan sebuah hutan, keadaan kesesuaian penggunaan tanah dsb. Drived data layers secara lengkap tergantung pada arah dari proyek.

Tiap layer data akan di input tersendiri dan topological terintegrasi untuk meng create kombinasi layer-layer data. Berdasar pada model data, yaitu vektor atau raster, dan struktur topological, pilihan fungsi-fungsi analisa data dapat disetujui. Hal in penting untuk dicatat bahwa untuk GIS berbasis vector penetapan struktur struktur topological hanya dapat di jelajahi dengan menandakan lebel-lebel unik pada tiap feature.

Spatial indexing – Horizontal Data Organization

Organisasi pemilik perusahaan dari layer-layer data dalam model horizontal dalam sebuah GIS dikenal sebagai spatial indexing. Spatial indexing adalah metoda digunakan oleh SW tersebut untuk menyimpan dan meretrive data spatial. Berbagai strategi berbeda yang ada untuk mempercepat proses retrieve dalam sebuah produk SW GIS. Kebanyakan terkait pembagian area geographic kedalam subset yang mangeable atau tile. Tile-tile tersebut kemudian diindex secara matematis yaitu dengan quadtrees, dengan R (rectangle) trees, untuk memungkinkan pencarian dan retrieval dengan cepat ketika querying dimulai oleh satu user. Spatial indexing adalah analog dengan penetapan lembar-lembar peta, kecuali bahwa teknik indexing tertentu digunakan untuk mengasses data menyeberang batas-batas lembar-lembar peta (tile). Ini dikerjakan sederhana untuk menunjukkan kinerja query untuk data set yang besar yang membentangi banyak sekali lembar-lembar peta, dan menjamin kesatuan (integrity) data sepanjang batas lembar peta.

Metoda dan peruses indexing spatial biasanya transparan kepada user. Walaupun begitu, ia sangat penting khususnya ketika set data yang besar dipakai. Pengertian indexing spatial teleh demikian penting dalam perencanaan SW GIS pada beberapa tahun terakhir, aplikasi bersekla besar telah memulai menggunakan teknologi GIS. User telah menemukan bahwa waktu respons dalam query set data yang sangat besar kelambatan tidak dapat diterima. Vendor SW GIS telah menanggapi dengan mengembangkan algoritma yang canggih untuk mengindex dan retrieve data spatial. Adalah penting dicata bahwa sistem raster, dengan sifat dari struktur datanya, secara typical tidak memerlukan satu metoda spatial indexing. Pendekatan raster membebankan kebiasaan, yang siap ditujukan pada hakekatnya pemisahan data alam dengan struktur datanya. Sesuai dengan itu, indexing spatial biasanya tidak diperlukan . Oleh karena itu, vector GIS yang lebih canggih membutuhkan satu metoda untuk meretrieve obyek data spatial.

Diagram berikut melukiskan satu library peta typical yang disusun untuk satu area intrest. Hutan penutup layer diperlihatkan untuk 6 contoh tile untuk melukiskan bagaimana data disimpan secara transparan dalam satu library peta menggunakan satu incex spatial. Klik pada peta untuk melihat 6 contoh tile.




Indexing horizontal data spatial dalam sebuah SW GIS melibatkan beberapa persoalan. Hal tersebut berhubungan dengan luasnya pendekatan spatial indexing tersebut. Mereka terdiri atas ;

Seja o primeiro a comentar

Poskan Komentar

About Me

Foto Saya
Sahrul Ramdoni
Lihat profil lengkapku

Follower

Inginku tau © 2009. Template by Sahrul Ramdoni.

@sahrulramdoni